7 Pembatal Puasa

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Bila kita ragu pada sesuatu yang membatalkan puasa atau tidaknya, maka apa yang wajib? Yang wajib adalah menganggapnya bukan sebagai pembatal puasa, karena ibadah itu ditetapkan dengan dalil syar’i, sehingga mesti dengan dalil syar’i yang menunjukkan bahwa hal itu termasuk pembatal puasa, diantara perkara yang juga membatalkan puasa contohnya: keluarnya mani dengan syahwat karena perbuatan seseorang, seperti: berusaha mengeluarkan mani dengan tangan, bercumbu dengan istrinya hingga inzal (ejakulasi) atau lainnya.

Adapun inzal dengan sekedar memikirkan (jima’), maka tidak merusak puasanya ketika tidak menyentuh kemaluannya, berdasarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

إن الله تجاوز عن أمتي ما حدثت به أنفسها ما لم تعمل أو تتكلم متفق على صحته

”Sesungguhnya Allah memperbolehkan umatku (tidak dianggap dosa) apa-apa yang dibisikkan oleh jiwa mereka selama tidak diamalkan atau diucapkan” (Muttafaqun ’alaihi)

Mungkin ada yang menyanggah dengan menanyakan: Apa dalil bahwa keluarnya mani dengan syahwat bisa merusak puasa?

Maka jawaban atas pertanyaan ini, kami katakan: sesungguhnya telah disebutkan dalam hadits qudsi, bahwasannya Allah berfirman tentang seorang yang berpuasa:

يدع طعامه وشرابه من أجلي

“Dia meninggalkan makannya dan minumnya serta syahwatnya karenaku.”
Sedangkan inzal itu syahwat. Oleh kerena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: Dan bersetubuhnya salah satu dari kamu dengan istrinya adalah shadaqah. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kami menyalurkan syahwatnya (secara halal), apakah ia mendapat pahala? Beliau menjawab: Ya, ‘tidakkah kamu tahu, apabila seseorang menyalurkan syahwatnya pada yang haram, dia berdosa? Demikian pula apabila disalurkannya pada yang halal, dia mendapat pahala. (HR. Muslim)

Atas dasar ini pembatal puasa ada tujuh:

  • Makan
  • Minum
  • Jima’ (hubungan suami istri)
  • Bekam
  • Muntah
  • Perkara yang semakna dengan makan dan minum
  • Keluarnya mani dengan syahwat karena perbuatan seseorang.

📀Liqa’ al-Bab al-Maftuh 222

sumber 

Tinggalkan Komentar