Dolar AS Nyaris ke Rp 13.900/US$. Warganet : Gak Ada Berita Begini Di Metro TV

Foto: CNBC Indonesia

Performa rupiah menjelang akhir pekan begitu mengecewakan. Pada akhir perdagangan, rupiah anjlok hingga 0,69% terhadap dolar AS ke level Rp 13.875. Jika dibandingkan dengan mata uang negara lainnya di kawasan Asia, depresiasi rupiah merupakan yang paling parah.

Secara keseluruhan, dolar AS memang sedang dalam posisi yang perkasa. Tercatat, hanya dolar Hong Kong dan Dong yang mampu ‘menang’ melawan greenback, walaupun tipis saja.

Perkasanya dolar AS merupakan hasil dari kembali munculnya ketakutan atas kenaikan suku bunga acuan oleh the Federal Reserve yang lebih agresif dari perkiraan. Mengutip Thomson Reuters, sebanyak 77% dari perusahaan anggota indeks S&P 500 yang telah mengumumkan kinerja keuangan sampai dengan Kamis pagi waktu setempat (19/4/2018) mencatatkan laba bersih yang lebih tinggi dari ekspektasi.

Kinerja yang positif dari para emiten ditakutkan akan mendorong inflasi terakselerasi lebih kencang dan memaksa the Federal Reserve selaku bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga acuan lebih dari 3 kali pada tahun ini. Investor pun berbondong-bondong melepas instrumen investasi serta mata uang negara-negara kawasan Asia dan menjatuhkan pilihannya kepada dolar AS.

Bank Indonesia Jadi Pemberat

Pelemahan rupiah yang begitu signifikan ikut dipengaruhi oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang tetap menahan suku bunga acuan di level 4,25%. Padahal, beberapa negara tetangga sudah mengikuti langkah the Fed dengan mengetatkan kebijakan moneternya.

Pada bulan Januari lalu, bank sentral Malaysia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25bps, menjadikannya negara Asia Tenggara pertama yang melakukan hal tersebut selama bertahun-tahun lamanya. Terakhir kali Malaysia menaikkan suku bunga acuannya adalah pada tahun 2014.

Maju ke bulan Maret tepatnya pada tanggal 22, ada bank sentral China yakni People’s Bank of China (PBOC) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 5bps, merespon kenaikan suku bunga acuan oleh the Fed yang diumumkan pada dini hari.

Kemudian pada 13 April, Otoritas Moneter Singapura (MAS) memperketat kebijakan moneternya untuk kali pertama dalam enam tahun. Berbeda dengan bank sentral pada umumnya yang menggunakan suku bunga acuan dalam mengelola kebijakan moneternya, MAS melakukannya dengan mengendalikan nilai tukar. Hal ini dilakukan dengan cara membiarkan dolar Singapura naik dan turun terhadap mata uang negara rekan dagang utamanya dalam rentang yang tidak dipublikasikan kepada pelaku pasar.

MAS mengatakan akan sedikit meningkatkan slope dari rentang pergerakan dolar Singapura dari yang sebelumnya 0%, sementara lebar dan titik tengah dari rentang tersebut akan dipertahankan.

Meskipun MAS tidak memberikan angka spesifik untuk seberapa besar kenaikan slope yang dimaksud, analis memperkirakan bahwa kenaikan itu akan mendorong dolar Singapura menguat sebesar 0,5% terhadap dolar AS secara tahunan.

Keputusan BI untuk tetap menahan suku bunga acuannya membuat rupiah ‘dihukum’ lebih parah oleh pelaku pasar.

Berikut Komentar warganet :

 

Tinggalkan Komentar